Kampung Watu di Kota Ruteng – Berawal dari Watu Deri dan Watu Takung (1)

RUTENG. Watu Deri usai ritual adat persembahan hewan

Ruteng (flobamoradewata.com) – PULUHAN orang mengenakan busana adat Manggarai duduk bersila di natas (pekarangan) Bangka, Kelurahan Watu, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Hari itu, Jumat, 23 Februari 2018, sedang berlangsung ritual adat khusus menata kembali posisi dua batu bersejarah yang diyakini menjadi tonggak kelahiran nama kampung  ini.

RUTENG. Watu Takung di kawasan adat Bangka, Kota Ruteng

Prosesi adat dipimpin Tua Adat Kampung Ruteng Pu’u, Kraeng Lamber. Maklum sejarah Kampung Watu berkaitan erat dengan keberadaan kampung  Ruteng Pu’u. Kampung tua ini berada di wilayah Kelurahan Golodukal, Kecamatan Langke Rembong.

“Asal leluhur kami dari Kampung Ruteng Pu’u. Nama leluhur kami itu, Djong Djoko. Lopo Djong Djoko yang pertamakali menempati wilayah ini (Kampung Watu) lebih dari seratus tahun silam,” ungkap sesepuh keluarga besar Kampung Watu, Herman Djegaut, kepada wartawan flobamoradewata.com dan sanurpost.com, Syam Kelilauw, di ruang kerjanya, Yayasan Pendidikan St. Thomas Aquinas Ruteng, belum lama berselang.

Lopo Djong Djoko semasa hidupnya dikenal memiliki kesaktian. Dalam tradisi Manggarai disebut figur yang melegenda ini memiliki rang. Orang Bali menyebutnya taksu. Ini enerji supranatural yang dikenal juga dengan istilah kasta.

“Dalam sejarah lisan di keluarga besar Ruteng Pu’u, Lopo Djong Djoko semasa hidup memang dikenal disegani karena memiliki kesaktian,” tutur salah satu keturunannya, Stefanus Keboro.

Dalam sejarah lisan keluarga besar ini juga dituturkan, saat menempati lahan yang belakangan dikenal sebagai wilayah adat Bangka, Lopo Djong Djoko membawa dua buah batu dari kampung asalnya. Dua batu itu berukuran hampir sama. Dua batu ini dikenal dalam bahasa lokal Manggarai sebagai Watu Deri dan Watu Takung.

RUTENG. Sesepuh orang Ruteng Pu’u di Kampung Watu, Herman Djegaut, dan wartawan, Syam Kelilauw

Wilayah Bangka berada di timur jalan raya, utara Gereja Katedral Ruteng yang lama. Ada sebuah rumah adat (mbaru gendang) di atas lahan yang dikepung rumah tinggal sementara sanak famili keturunan Lopo Djong Djoko. Pekarangan luas (natas) masih tampak lapang di sisi barat bangunan mbaru gendang.

Menurut keturunan lain Lopo Djong Djoko, Hubertus Not, sejarah nama Kampung Watu berkaitan erat dengan dua batu yang dibawa dari Ruteng Pu’u ratusan tahun silam. Dua batu ini dibawa Lopo Djong Djoko ke wilayah adat Bangka. Dua batu ini dikenal sebagai Watu Deri dan Watu Takung.

Herman Djegaut menambahkan cerita sejarah dua batu tersebut. Watu Deri konon digunakan Lopo Djong Djoko sebagai tumpuan kaki saat hendak menunggang kuda. Kadang Watu Deri juga menjadi tempat alas duduk sambil bersandar saat orang tua ini melepas lelah.

RUTENG. Stef Keboro

Sementara Watu Takung menyimpan makna sakral. Sesuai istilah takung yang sama artinya dengan persembahan. Batu ini berfungsi untuk menjadi sarana persembahan sebelum berbagai prosesi adat Manggarai berlangsung di rumah gendang Bangka.

“Biasanya dilakukan persembahan berupa telur ayam di atas Watu Takung sebelum acara adat dimulai, seperti acara teing hang ata tu’a, penti, dan lain-lain,” jelas Stef Keboro.

Keluarga besar Ruteng Pu’u meyakini sejarah nama Kampung Watu yang kemudian juga menjadi nama Kelurahan Watu itu memiliki pertalian garis sejarah dengan sejarah keberadaan Watu Deri dan Watu Takung tersebut. SYAM KELILAUW/FLOBAMORADEWATA.COM

Facebook Comments

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com