Prof. Dr. Made Bandem: Tarian NTT Itu “Metaksu” – Saat Saksikan Pentasnya di Pesta Kesenian Bali

NTT. Seniman dan budayawan Prof. Dr. Made Bandem berpose bersama penari dan pejabat dari Dinas Pariwisata NTT Falentinus Bhalu dan Daniel Lebu Raya serta salah satu perwakilan dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali

Denpasar (flobamoradewata.com) – TARIAN tradisional yang dikreasikan dalam balutan seni pertunjukan kontemporer asal Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), memeriahkan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-39, Minggu 11 Juni 2017, di Wantilan Art Centre Denpasar sungguh memukau pengunjung. Tak kurang seniman dan budayawan top Bali, Prof. Dr. Made Bandem dan Ny. Swasthi Bandem, memuji penampilan atraktif penari yang dipersiapkan Sanggar Tari Cindy Onekore Ende itu.

SENI. Tarian kontemporer Legenda Gunung Meja Ia Wongge yang dibawakan penari Sanggar Cindy Onekore Ende di Wantilan Art Centre saat PKB ke-39 Tahun 2017

Dalam pentas penyelenggaraan PKB Tahun 2017, duta seni NTT mendapat jatah tampil pada hari pertama usai dibuka secara resmi oleh Menko Pembangunan Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Santu (10/6) malam, di Panggung Terbuka Ardha Chandra Art Centre. Duta seni asuhan Lin Rewa ini menyuguhkan tarian Ae Manu Ngae, Legenda Gunung Meja Ia Wongge, serta tarian Bara Nuri.

Cuplikan tarian Ae Manu Ngae sempat dipertontonkan saat acara pawai pembukaan PKB ke-39, Sabtu (10/6) kemarin di depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali Bajra Sandhi. Saat tampil di Wantilan Art Centre, para penarinya mempertunjukan seni gerak ini secara komplet. Mereka menari diiringi alat music tradisional, seperti gong.

Seniman dan budayawan Prof. Bandem tak sempat menyaksikan pertunjukan Ae Manu Ngae. Namun, saat memasuki wantilan, mantan ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar ini disuguhkan tarian Legenda Gunung Meja Ia Wongge dan tarian Bara Nuri secara berturut-turut. Guru besar emeritus Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar ini bahkan sempat mengabadikan momen seni pertunjukan asal NTT tersebut melalui kamera pribadinya.

Usai menyaksikan penampilan seniman tari sanggar asal Kelurahan Onekore, Kota Ende, itu, Profesor Bandem melempar pujian. “Penampilan anak-anak NTT tadi sangat kharismatik. Kalau dalam bahasa Bali, namanya metaksu,” puji mantan Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini.

Menurut Prof. Bandem, penampilan metaksu dalam tarian tersebut disebabkan para penari dan pemain musiknya memiliki keterampilan. Mereka mampu menampilkan tarian dalam teknik yang cukup bagus. Khusus tariannya disebutkan lebih mengandalkan gerakan seluruh tubuh.

“Mereka bisa mengontrol tenaga secara baik, sehingga dalam waktu yang cukup panjang. Ini bukti mereka memiliki physical aspect dan teknik yang sangat bagus,” paparnya.

Semua penari pun diyakini amat menghayati keseluruhan kisah dan pesan tarian tersebut. “Aspek mental dan gerak fisik mereka terbukti amat menyatu. Ini sungguh metaksu, kharismatik,” kata Prof. Bandem. SYAM KELILAUW

Facebook Comments

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com