“Koro Dara Ta’a”, Ritus Adat Manggarai di Lapangan Puputan Badung (2)

20161024_180722
Dari kiri: John Kadis, Syam Kelilauw, Domi Ngabut, Yusdi Diaz, dan A. A. Ngurah Bagus Agung

Denpasar (flobamoradewata.com) – PROSESI adat Bali mecaru alit yang digelar Pemerintah Kota Denpasar di Lapangan Puputan Badung Senin 24 Oktober 2016, menyusul kejadian perkelahian yang berbuntut tewasnya Yohanes Jeramun, telah dilanjutkan dengan ritus adat Manggarai yang dipimpin mantan Ketua Umum Ikatan Keluarga Manggarai Bali (IKMB) John Kadis dan Ketua Umum Ikatan Keluarga Besar Manggarai Barat (Ikamabar) Bali Dominikus Ngabut. Ritus adat yang dilakukan saat itu dikenal sebagai koro dara ta’a.

“Istilah koro dara ta’a dikenal luas di kalangan masyarakat Kempo, salah satu perkampungan tua di Lembor, Manggarai Barat, Flores,” jelas John Kadis.

20161024_175416Menurut John Kadis, tewasnya Yohanes Jeraman akibat ditusuk sangkur pelaku WR itu dianggap sebagai kematian tidak wajar dalam adat Manggarai.”Oleh karena itu kami terpanggil untuk mendukung saran Ketua Umum Flobamora Bali, Kraeng Yusdi Diaz, untuk melaksanakan upacara adat ini,” imbuh Domi Ngabut.

Ritus adat Manggarai ini dilaksanakan di Lapangan Puputan Badung usai digelar upacara mecaru alit karena korban maupun pelaku sama-sama berasal dari Manggarai Barat. “Koro dara ta’a dilaksanakan sebagai doa penghentian atas kejadian mati tak wajar agar tidak menimpa kembali keturunan berikut di tempat yang sama,” imbuh John Kadis..

Ritus serupa ini, lanjut John Kadis, juga dikenal luas di kalangan masyarakat Manggarai. Namun, istilahnya keti le manuk miteng. “Secara harafiah, adat keti le manuk miteng berarti dihentikan oleh ayam berbulu hitam,” sambungnya.

Sarana yang digunakan dalam upacara ini, antara lain ayam hitam dan wada berupa doa. “Pemimpin ritual dan beberapa anggota keluarga duduk bersila di lokasi kejadian sambil menyampaikan wada. Intinya, permohonan doa dipanjatkan kepada arwah korban meninggal; arwah mereka yang tidak dikenal, tetapi mungkin mengalami nasib serupa di lokasi kejadian yang sama; roh/kekuatan supranatural yang menjadi penunggu (kakartana) di situ; serta Mori Kraeng Jari Dedek, Tuhan Allah Maha Pencipta,” paparnya.

20161024_180520
John Kadis, Domi Ngabut dan Agus Bugis bersama warga Manggarai Barat dalam busana tenun songket Manggarai saat ritual adat di Lapangan Puputan Badung

Biasanya wada tersebut disampaikan dalam bahasa Manggarai, seperti “Iyoo… denge le hau Yohanes Jeraman, ise empo, leluhur, itet Mori Jari Dedek. Daat hoo ite, sala mese. Aram manga mata nenggood ise empo de Yoh danong ata toe di pande wada ‘koro dara taa’d, mk hoos le hami panded. Hoos tandan lami le keti le manuk miteng, oke lau kolep leso laun, oke one waes kudut waa nggerlau tacik. Ampoongg… Mori, tegi dami, kudut neka manga kole mata taa hoo one ani ko anakd nggermusin, dopo noovi kali ga, sembeng koe Lite Mori one mose dokong dami one lino hoo, kudut ami dua wedi wai neho wake celern nggerwa agu bembang saungn ngger eta, uwa haeng wulang langkas haeng ntala, beka agu buar mensia ngger peang agu ngger one. Hau alm, ise empo sangged leluhur, titong ami lemai paang, ba ngger eta Moris curup soo. Iyoo… Mori Jari Dedek, hitus wada dami, tibaaa koes lite Mori. Ameeenggg.”

Wada disampaikan sebagai pengakuan telah terjadi laku penodaan terhadap kesucian alam dan kehidupan. “Wada ini ditujukan untuk membuang dan menghentikan peristiwa serupa sekaligus memohon kesucian dan keluhuran kehidupan tetap berlangsung di bumi,” tambah John Kadis.

20161024_180606Menurutnya, ritus koro dara ta’a lazim dilakukan saat menjelang sunset alias matahari terbenam (dut kolepn leso). Waktunya sekitar pukul 17.30.

Dalam praktiknya, semua peserta ritus duduk menghadap ke arah matahari terbenam. “Lalu potong leher ayam hitam dan dilempar ke arah matahari terbenam. Jika posisi paruh atau kepala ayam mengarah ke matahari saat jatuh ke tanah berarti kehidupan berikutnya aman. Jika arah jatuh paruh ayam jatuh ke tempat jubir berada, itu pertanda akan ada lagi kejadian berikut. Makanya untuk menghentikan kejadian itu, jubir adat mengambil kepala dan pergi ke sungai untuk dihanyutkan,” urai John Kadis.***

Facebook Comments

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com