Arwah Mendiang Mundus Heka Dilepas Adat Suku Biinmafo TTU di Rumah Duka Sanglah

Denpasar (flobamoradewata.com) – MISA perkabungan meninggalnya salah satu sesepuh Unit 3Suka Duka Biinmafo Timor Tengah Utara (TTU) Bali, Raymundus Tanesi Heka, Jumat 9 September 2016 malam baru usai. Kalangan keluarga almarhum dan kerabat Biinmafo TTU Bali membaur bersama pelayat lain. Kedatangan warga di luar keluarga besar almarhum bisa menghibur sanak famili yang ditinggal selamanya Bapa Mundus Heka, panggilan akrab ayah tiga puteri itu.

Jarum jam menunjukkan sekitar pukul 23.15. Sejumlah tokoh yang mengerti urusan tata cara  Suku Dawan mulai sibuk. Mereka tampak mengarahkan kerabat terdekat agar berada di samping peti jenazah almarhum.

2Maklum adat melepas arwah orang meninggal menurut tradisi Biinmafo akan dilaksanakan. Adat ini dikenal dengan istilah Painono. “Adat ini dimaksudkan agar perjalanan arwah almarhum berlangsung lancar menuju surga,” jelas salah satu penyambung lidah warga adat, Pieter Abi.

Seorang pria separuh baya menjadi semacam orang yang dituakan bertindak sebagai atoin amaf. “Atoin Amaf ini saudara kandung dari istri almarhum. Dalam adat kami, atoin amaf merupakan sosok yang sangat didengar dalam menjalankan ritual ini,” jelas Pieter.4

Setelah semua sanak famili almarhum berkumpul, Pieter Abi berbicara dalam bahasa Kefa di hadapan jenazah. Lalu satu per satu bekal perjalanan almarhum dimasukkan dalam peti. Rupa bekal ini macam-macam, antara lain sepatu, baju, celana, pakaian dalam, sikat gigi, sabun mandi, bahkan dompet.

5“Ini semacam untuk melengkapi perjalanan almarhum,” tambah Pieter.
Barang perlengkapan mendiang tersebut dimasukkan secara bergiliran oleh Atoim Amaf diikuti istri, anak, menantu, dan cucu almarhum.

Upacara adat ini harus dilaksanakan malam hari. Waktunya harus ditentukan sebelum pukul 24.00.

Ritual terakhir biasanya ditandai dengan penghancuran tempurung kelapa yang diletakan di depan pintu keluar sebelum peti jenazah diusung menuju liang lahat. “Tempurung yang dihancurkan itu menandai semua ritual telah berakhir,” jelasnya.

6Sebagaimana diberitakan flobamoradewata.com sebelumnya, kabut duka menyelimuti warga Bali keturunan Flobamora, khususnya Biinmafo Timor Tengah Utara (TTU) Bali. Salah satu sesepuhnya, Raymundus Tanesi Heka berpulang dalam usia 63 tahun. Salah satu pendiri Unit Suka Duka Tafenpah Bali ini meninggal, Kamis 9 September 2016, di Denpasar.

Almarhum meninggalkan istri, Theresia Julia (56) dan tiga puteri, Veronika Metriana Heka,
Anita Kristiana Heka, dan Fransiska Heka, serta empat cucu. Jenazah mendiang Bapa Mundus, panggilan akrab almarhum, disemayamkan di Rumah Duka RSUP Sanglah.

Menurut Ketua Umum Biinmafo Bali Djemi Noetnana, jenazah Bapa Mundus disemayamkan hingga misa pemakaman yang direncanakan Sabtu 10 September 2016. “Misa arwah akan dilaksanakan Jumat 9 September 2016 pukul 20.00. Esoknya, Jumat 10 September 2016 pukul 10.00 dilanjutkan misa penguburan. Setelah itu menuju Pemakaman Katolik Mumbul, Kuta Selatan,” jelas Djemi didampingi Sekretaris Biinmafo TTU Bali Remygius Lake di Rumah Duka RSUP Sanglah.

20160908_223036-2Usai pemakaman, keluarga almarhum bersama keluarga besar Biinmafo TTU Bali mengadakan misa arwah malam ketiga. “Misa arwah malam ketiga diadakan Sabtu 10 September 2016 pukul 20.00 di Komsos Jalan PB Sudirman Denpasar,” imbuh Remygius Lake.

Ratusan warga Flobamora Bali memberikan simpati terhadap almarhum di rumah duka. Tampak pula jajaran pimpinan Flobamora Bali dan pengurus unit suka duka di lingkungan Flobamora Bali, antara Yusdi Diaz, Angelica Gek, Itje Odja, Selitupen Petrus, dan lain-lain.

Sementara istri almarhum, Theresia Julia mengisahkan, sebelum menetap di Bali sejak tahun 1986, Bapa Mundus merantau ke Surabaya. Di Kota Buaya ini,  Bapa Mundus menemukan jodohnya yang berasal dari Pare, Kediri,  Jawa Timur, tahun 1977. “Kami menikah tahun  1979 di Pare,” kisahnya.

13590282_294389140903660_3467537207394528026_nSebelum meninggal, Bapa Mundus merupakan sosok yang akrab di lingkungan Gereja Katedral Denpasar. Selama bertahun-tahun, dia menjadi sopir mobil ambulans milik gereja ini. Pekerjaan sebagai pengemudi mobil yang kerap menolong warga gereja dalam urusan kedukaan itu terhenti saat dirinya mengidap tumor sekitar tujuh lalu. “Suami saya sempat menjalani kemoterapi. Namun, kemudian terkena stroke,” ungkap Theresia Julia.

Sebelum mengembuskan napas terakhirnya, menurut Theresia Julia, suaminya hanya batuk-batuk. Tetapi, beberapa saat kemudian kondisi kesehatannya  mendadak memburuk.

Banyak kenangan tentang Bapa Mundus yang tersimpan dalam catatan keluarga yang ditinggalkan. “Suami saya sangat disiplin. Utamanya dalam kaitan dengan urusan sembahyang di gereja. Dia pasti marah jika saya dan anak-anak tidak ikut misa minggu. Kami diingatkan, selama enam hari kerja, masak sehari menghadap Tuhan tidak sempat,” kenang Theresia Julia.

Kenangan lain juga dirasakan Djemi Noetnana dan Remygius Lake. Menurut pimpinan Biinmafo TTU Bali ini, almarhum sangat care dengan kegiatan di lingkungan unit suka duka mereka. Dalam banyak kegiatan Biinmafo TTU Bali jarang Bapa Mundus absen.

“Waku pertandingan sepak bola Flobamora Cup 2015, beliau selalu datang nonton walau kondisi kesehatannya sudah tidak sebaik dulu,” ungkap Djemi.

Hal senada dikisahkan Remygius Lake. “Bapa Mundus selalu berusaha datang naik sepeda motor. Begitulah kepedulian beliau terhadap keluarga besar kami,” tambahnya.***

Facebook Comments

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com