Pura Agung Waidoko, Simbol Hindu Bali di Maumere, Flores

Maumere (flobamoradewata.com) – Pura Agung Waidoko menjadi simbol kehadiran Hindu Bali di Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Berdiri kokoh di sudut barat Kota Maumere, Pura Agung Waidoko layaknya ‘tuan rumah’ yang menyapa tiap orang yang hendak memasuki Kota Maumere dari wilayah barat.

Maklum, posisinya yang strategis terletak di tepi ruas jalan negara, jalur pantura yang menghubungkan Kabupaten Sikka dengan Kabupaten Flores Timur di bagian timur Pulau Flores dan Kabupaten Sikka dengan Kebupaten Ende dan Nagekeo di wilayah tengah Pulau Flores. Pura ini telah memberi warna bagi kehidupan beragama masyarakat Sikka yang plural.

Dari penuturan pengempon yang juga Pemangku Pura Agung Waidoko, I Ketut Nepo, kepada flobamoradewata.com, (1/8), Pura Agung Waidoko didirikan pertama kali pada tahun 1991, setelah hak kepemilikan tanah resmi diperoleh pada tahun sebelumnya.

Awalnya, yang dibangun hanyalah pagar pembatas yang mengelilingi area tanah tersebut. Sayangnya, bangunan tersebut luluh lantah akibat gempa bumi yang melanda Kabupaten Sikka  tahun 1992. Selanjutnya, atas swadaya warga Banjar Suka Duka Kabupaten Sikka yang bernaung di bawah Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Sikka, pura tersebut dibangun kembali pada tahun 1993.

Karena hasil swadaya umat Hindu Bali di Sikka, kata Nepo, pembangunan pura tersebut memakan waktu yang cukup lama. Selanjutnya, kata Nepo, Pura Agung Waidoko mengalami beberapa kali pemugaran. Yakni pada tahun 2002 dimana bagian Padma Pura yang dipugar dan tahun 2003 bagian pelinggih puranya yang dipugar.

Kala itu kesepakatan dari warga banjar suka duka kabupaten Sikka yang dikepalai oleh Made Maharsa dan ketua seksi pembangunan Gede Ardita, yakni setiap kepala keluarga yang berjumlah 112 KK kala itu wajib menyumbang dana punia sebesar Rp 500 ribu yang dicicil selama setahun. Setelah itu, kata Nepo tahun 2004 dilakukan pembangunan pagar bagian depan. Dan pada tahun 2008 diadakan upacara Ngenteg Linggih.

Pengerjaanya, kata Nepo, dilakukan  dua tenaga tukang dari Desa Srokaden, Bangli. “Tukangnya dari Bangli namanya Pak Wayan dan Komang. Mereka berdua kakak beradik, saya tidak ingat nama lengkapnya. Bagian bangunannya semuanya dicetak disini,” ujar Nepo yang sejak tahun 2010 menjabat sebagai pemangku Pura Agung Waidoko ini.

Meski demikian, Nepo mengaku jika ada beberapa bagian bangunan pura yang perlu dipugar kembali dan ada yang belum dibangun sama sekali seperti bale penyimpanan barang perlengkapan pura, pagar bagian madya utama, bale kulkul dan pagar pelataran parkir.

“Masih banyak yang harus direhab dan dibangun lagi. Kami sudah bahas dalam pertemuan bersama warga banjar bagaimana cara memperoleh dana pembangunan,” ujar pria asal Beng-Gianyar ini.

Nepo berharap agar pemerintah provinsi dan kabupaten di Bali bisa membantu rencana pembangunan Pura Agung Waidoko ini. “Saya berharap kepada media flobamoradewata.com agar bisa menyampaikan harapan kami kepada Gubernur Bali, Pak Mangku Pastika dan para bupati/walikota se-Bali untuk bisa membantu pembangunan Pura Agung Waidoko ini,” harapnya. TINTON MEO

Facebook Comments

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com