Bupati Ngada Marianus Sae, Meretas Daerah Terpencil Bermotor Trail (3)

BAJAWA. Marianus Sae bersepeda motor trail (Foto: Flobamora Dewata/Emanuel Djomba/Ngada)

Dengan pakaian dan atribut lengkap — helem, jaket, pelindung lutut, siku dan perut, serta sepatu touring-balap — Marianus Sae layaknya pembalap motor trail. Apalagi, bila bergaya di atas motor trail kebanggaannya, Juve Tracker 150 CC, tampilan Bupati Ngada ini tak kalah dari Johny Pranata, pembalap nasional yang lama merajai dunia balap motor cross nasional.

BAJAWA. Marianus Sae (Foto: Flobamora Dewata/Emanuel Djomba/Ngada)

BAJAWA. Marianus Sae
(Foto: Flobamora Dewata/Emanuel Djomba/Ngada)

Jam baru menunjukkan pkl. 05.30 wita, ketika Marianus muncul dari balik pintu samping rumah jabatan (Rujab). Dengan gaya khasnya, Bupati yang ‘doyan’ bertualang ini berjalan cepat menuju halaman. Helem dikenakannya, dan…greng… Staf yang menyertainya sempat gelagapan. Dalam hitungan detik, Marianus sudah melesat dari halaman rujab berbelok ke kanan, ke arah Tanalodu, menyusuri Soekarno – Hatta, dan menghilang di jalan T.W Mengeruda ke arah Soa.

Raungan motor rombongan Bupati sempat menjadi perhatian beberapa warga kota yang sedang menjalani aktivitas suatu ketika. Bupati Marianus konon sering mendadak mengubah jadwal untuk melakukan kunjungan. Dia juga tak jarang harus menggunakan sepeda motor untuk kunjungan kerja tana pengawalan dan tanpa iringan forider (voorijder).

Suatu ketika Marianus meluncur ke Terong Kedhong untuk menyelesaikan kisru di sebuah sekolah yang tak kunjung selesai. Mendengar laporan awak media, Bupati Marianus langsung memanggil pejabat terkait dan meminta staf menyiapkan kunjungan mendadak itu keesokan harinya.

Setelah melesat dengan motor kebanggaannya dari kota Bajawa, Bupati Marianus menyusuri Batara (Bajawa Utara) hingga Alowulan, Waesaok, Lindi menerjang jalan berbatu. Sepanjang perjalanan, Bupati Marianus selalu menyempatkan diri menyambangi warga sekitar. Menyapa dan menanyakan keadaan warga. Dia juga menyambangi beberapa sekolah saat pulang dan memberi suport kepada para guru yang bertugas di daerah-daerah sulit. Setibanya di Mok, rombongan belok kanan menyusuri jalan tanjak menuju Terong Kedong. Tanpa iringan foraider, Bupati Marianus melesat jauh di depan. Beberapa staf tetap berupaya mengimbangi.

Medan yang sulit bukan masalah buat Marianus. Sebaliknya memacu adrenalin dengan motor trail Juve Tracker-nya. Sesekali Marianus berhenti ketika berpapasan dengan masyarakat, sekaligus menyiasati agar rombongan yang tertinggal tiba. Staf lainnya yang sebagian menggunakan motor seperti Megapro, Glpro, motor bebek tak berani ‘menyaingi’ Bupati Marianus. Bukan karena sungkan dengan atasannya tetapi kondisi medan yang sulit akan sangat kerepotan menggunakan motor-motor standar macam itu. Kalau nekad, akibatnya bisa fatal. Mending bergerak perlahan, yang penting nyampe.

Kunjungan bupati Marianus ke desa terkadang di luar jadwal protokoler. Ini menjadi kelaziman bagi Bupati Marianus ketika ada persoalan yang perlu ditangani segera. Tidak tunggu dijadwalkan dulu. Tidak melihat agenda. Tidak ada pengawalan.

Dia menjadi pejabat daerah yang tidak pernah mati kreativitas untuk menyambangi rakyatnya di tempat-tempat terpencil. Gaya khas blusukannya sering membuat masyarakat terkejut. Mengabaikan protokoler adalah jalan pintas baginya untuk turun mendengarkan masalah rakyat. Ke Warunembu (Riung Barat) bulusukan dengan jalan kaki, ke Terong Kedhong blusukan dengan sepeda motor, dan beberapa daerah terpencil serta masih terisolasi. Tak jarang Marianus menggunakan sepeda motor dan ‘mengabaikan’ seremonial yang dianggap membelenggunya untuk leluasa turun menemui rakyat.

Dalam kondisi emergency atau pun sekedar rekreasi karena hobi, Marianus tidak segan-segan menggeber sepeda motor ber-CC 150 itu menaiki tanjakan terjal dan turunan curam, seperti di Terong Kedhong. “Saya selalu membayangkan, saya yang pakai trail seperti ini begitu sulitnya menaiki tanjakan, apalagi mereka yang sehari-hari menggunakan sepeda motor bebek mengarunginya jalan semacam ini,” kata Marianus. Mungkin karena itu, Marianus tak jarang memberi semangat dan perhatian kepada para guru/pegawai yang bertugas di daerah terpencil dengan fasilitas seadanya.

Untuk menembus daerah terpencil memang tidak bisa menggunakan mobil, karena itu pilihannya adalah kalau tidak jalan kaki, ya naik motor. Bagi Marianus ‘menunggang’ motor berawal dari hoby. Ketika masa kecil dia piawai menunggang kuda pacu, maka saat ini hobi bermotor menjadi pilihan. Awalnya sekedar hobi, tetapi kemudian hobi menjadi solusi, karena dengan kendaraan motor (trail) dia bisa menyambangi daerah terpencil yang sulit dijangkau dengan mobil, sehingga lebih cepat bertemu rakyatnya.

Terkadang hobi memang memberi manfaat yang besar dalam menunjang kegiatan seseorang. Itu juga yang dirasakan Bupati Marianus Sae. Hobi blusukan dengan Motor Trail mengantarkan Marianus menjangkau tempat-tempat terpencil di daerah ini.

Dia memilih mengendarai motor trailnya untuk menembus dan melintasi sejumlah wilayah terpencil. Bahkan, tak hanya di daerah yang dipimpinnya, tapi juga ke Manggarai Timur sekedar melihat-lihat. Marianus memang hobi mengendarai motor trail. “Dan dengan motor trail, saya lebih mudah menembus medan dengan kondisi infrastruktur jalan yang belum maksimal ketimbang menggunakan mobil,” beber Marianus kepada Emanuel Djomba dari Tabloid Flobamora.

Dengan motor trail, lanjut dia, perjalanan lebih cepat sehingga semakin banyak lokasi yang dapat dikunjunginya untuk memantau, meninjau, dan mendengar langsung aspirasi rakyat di pelosok. Menurut Marianus, selama ini masyarakat di pelosok apalagi di perbatasan wilayah seolah teralienasi. Pemimpin daerah enggan datang. Pria yang selalu tampil enerjik ini mengungkapkan, suatu ketika dirinya yang saat itu baru dilantik sebagai bupati berkunjung ke sebuah desa yang infrastruktur jalannya belum memadai.

Ketika tidak dikawal dengan acara protokoler, Bupati Marianus dapat berbincang-bincang dengan sejumlah penduduk tanpa ada jarak. Karena tidak berpenampilan seperti pejabat, kadang masyarakat tidak ada yang menyadari bahwa orang yang mengobrol dengan mereka adalah seorang bupati. “Masyarakat mengeluhkan kondisi wilayah mereka yang belum tersentuh pembangunan. Saya mampir ke sebuah kampung, di sana bertemu dengan seorang ibu yang ‘memaki-maki’ pemerintah karena jalannya rusak dan tidak pernah diperbaiki,” ungkap Mrianus mengingat pristiwa itu. Di tempat lain, karena blusukannya yang tak jarang mengenakan celana pendek, rakyatnya mengira dia sedang jual beli hewan.

Dari pengalaman itulah Bupati Marianus yang kini kembali dipercaya mayoritas rakyat Ngada memimpin lima tahun kedepan, bertekad menggenjot infrastruktur di daerahnya, terutama akses ke desa-desa yang dulunya belum tersentuh sama sekali, seperti Warunembu, Tenilopijo, dan beberapa tempat lainnya. “Memang, karena keterbatasan anggaran, maka banyak jalan yang belum bisa tingkatkan. Tetapi setidaknya kita bersyukur akses jalan ke daerah yang sebelumnya tidak bisa masuk kendaraan, sekarang ini sudah bisa masuk,” katanya. EMANUEL DJOMBA/NGADA

 

Facebook Comments

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com