Marianus Sae, Bupati yang Dibenci Elite Politik, Dicintai Rakyatnya (2)

DENPASAR. Marianus Sae dan Ketua Unit Suka Duka Bobaezo, Ikatan Keluarga Ngada (Ikada) Bali dalam acara HUT ke-5 Bobaezo di Denpasar beberapa waktu lalu (Foto: Dok. Flobamora Dewata)
DENPASAR. Marianus Sae bersama Uskup Denpasar Ym. Mgr. Dr. Silvester San, Ketua Umum Flobamora Bali Yusdi Diaz, dan pengurusnya, pengurus Ikada Bali, dan kalangan warga dan tokoh Bobaezo Bali berpose saat acara HUT ke-5 Bobaezo di Denpasar beberapa waktu lalu (Foto: Dok. Flobamora Dewata)
DENPASAR. Marianus Sae bersama Uskup Denpasar YM. Mgr. Dr. Silvester San, Ketua Umum Flobamora Bali Yusdi Diaz, dan pengurusnya, pengurus Ikada Bali, dan kalangan warga dan tokoh Bobaezo Bali berpose saat acara HUT ke-5 Bobaezo di Denpasar beberapa waktu lalu
(Foto: Dok. Flobamora Dewata)

Setelah sempat menekuni studi di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang hingga semester tujuh tahun 1988, ia memutuskan berhenti kuliah dan merantau ke Bali bekerja di perusahaan kargo yang bergerak di bidang ekspor-impor. Tahun 1990 ia mendirikan perusahaan kargo sendiri. Ia sempat mendirikan PT Ngada Paradise tahun 1994 untuk mengelola objek wisata Mengeruda atas permintaan Bupati Joachim Reo kala itu. Sayang penggantinya tak memiliki kemauan seperti pendahulunya, maka usaha Marianus pun gagal.

Tahun 2006, Marianus mendirikan PT Flores Timber Specialist dengan bidang usaha penanaman dan pengembangan berbagai jenis kayu bermutu. Ia pun gencar mendorong masyarakat Ngada menanam pohon jati emas, mahoni, dan berbagai jenis pohon lainnya. Bagi Marianus pohon itu tabungan jangka panjang, sehingga dia tak segan-segan mengeluarkan biaya untuk mendatangkan anakan anakan pohon dari Jawa Barat.

Mulai tahun 2007 benih pohon itu disemaikan di Zeu yang kini kebunnya dipenuhi berbagai jenis tanaman pohon berkualitas dan bernilai ekonomi tinggi. Ia memiliki 70 hektare kebun yang ditanami 70 ribu anakan jati emas. Sedikitnya 1,9 juta anakan tahun pertama dan empat juta anakan tahun kedua dibagikan kepada masyarakat pedesaan di seluruh Ngada.

Selain membagikan pohon kepada masyarakat Marianus juga membagikan paket sapi dan babi untuk diternakkan warga dengan sistem bagi hasil secara seimbang. Inilah yang disebutnya sebagai program pemberdayaan ekonomi rakyat atau Perak.

Keberhasilan itu rupanya menjadi inspirasi bagi Marianus dan Paulus untuk menjadikan program Perak sebagai salah satu program kerja unggulan masa bakti Bupati-Wakil Bupati Ngada periode 2010-2015 dan 2015-2010.

Perak adalah salah satu pilar pembangunan Ngada, selain dua pilar lainnya, yakni Jaminan Kesehatan Masyarakat Ngada (JKMN) dan Penguatan Koperasi Pedesaan. Periode 2015-2020 duet Marianus dan Paulus yang dikemas dalam Mulus II terus berupaya untuk mewujudnyatakan tiga program utamanya. Tiga program itu adalah Zala Siro Saro (Jalan Simpang Siur), Wae Gibho Gabho (Air yang Meluap-luap), dan Dara Rilo Ralo (Listrik Terang Benderang).

Di tengah pengabdian yang tulus, Marianus yang berhasil meraih gelar sarjana administrasi publik tidak luput dari serangan lawan politik dan sekelompok orang yang tak menyukainya. Marianus dibenci sebagian elite politik, tetapi dicintai rakyat kecil.

Kini masyarakat Ngada di perdesaan selalu menyebut nama Marianus sebagai bupati yang merakyat. Ia menjadi bupati Ngada yang istimewa. Program kerjanya disambut rakyat Ngada dengan rasa syukur. AGUST G. THURU

Facebook Comments

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com