Pianis Cilik Asal Ende Flores Masuk Final di California

Canho mencium Sang Merah Putih sebelum latihan terakhir di Long Beach, California. (Foto: Linda N Jambru)

Canho_3

Penampilan Canho memikat para juri, sehingga ketika dia memainkan lagu “Etude Revolutionary” yang termasuk dalam ‘Open Category’, dua juri spontan bertepuk tangan. Padahal sesuai peraturan lomba, juri dilarang bertepuk tangan.

Berita terbaru dari ajang WCOPA di California menggembirakan Indonesia. Pianis cilik berbakat asal Ende Flores, NTT, Canho Pasirua (11 tahun) yang mewakili Indonesia dalam Kejuaraan Seni Pertunjukan se-Dunia atau “World Championship of Performing Arts” (WCOPA), dinyatakan tim juri maju ke final untuk lomba piano klasik di Long Beach, California, AS.

Hasil penilaian dewan juri yang berjumlah 18 orang memantapkan Canho sebagai finalis kompetisi internasional itu setelah menyisihkan 43 peserta lainnya.

Menerima berita ini, tokoh NTT di Jakarta Gories Mere mengungkapkan rasa haru dan bangganya. “Thanks God. Anak ini luar biasa. Sungguh membanggakan,” ujar Gories sebagaimana dilansir IndonesiaSatu.co.

Mantan Kepala Densus 88/Antiteror Polri dan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) yang kini menjabat Staf Khusus Presiden Bidang Keamanan dan Intelijen itu mengatakan, Canho menjadi bukti bahwa anak-anak Flores atau NTT menyimpan potensi besar, namun harus diperjuangkan lewat usaha, disiplin dan kerja keras agar berkembang dan bermanfaat.

Sebelumnya ibunda Canho, Linda N Jambru, dalam percakapan via telepon dengan Valens Daki-Soo, Komisaris Utama PT Veritas Dharma Satya (PT VDS), Rabu (13/7), menginformasikan Canho lolos ke semifinal. Linda turut mendampingi putranya dalam ajang internasional WCOPA yang digelar di Long Beach, California, AS. Berita tentang melajunya Canho ke final baru diterima pagi ini, Kamis (14/7).

Menurut Linda, peserta yang mengikuti kompetisi musik instrumentalis berjumlah 43 orang. Yang masuk semifinal sebanyak 16 orang, terdiri dari delapan orang junior dan delapan senior.

Negara yang masuk semifinal untuk kelompok junior adalah Indonesia (Canho Pasirua), Rusia, Rumania (dua orang), Thailand, Cres Republic, Kanada, Jamaica.

Linda juga menyampaikan salam Canho untuk masyarakat Flores maupun Indonesia umumnya sambil meminta doa restu untuk babak berikutnya.

JURI BERTEPUK TANGAN
Pada babak penyisihan, Canho memainkan lima lagu untuk lima kategori. Penampilannya memikat para juri, sehingga ketika dia memainkan lagu “Etude Revolutionary” yang termasuk dalam ‘Open Category’, dua juri spontan bertepuk tangan. Padahal sesuai peraturan lomba, juri dilarang bertepuk tangan.

Sebelumnya, ketika Canho masih berada di Jakarta, dia mendapat apresiasi dan peneguhan dari pianis senior, pengusaha dan Pendiri Museum Rekor Indonesia (MURI), Jaya Suprana. Saat dihubungi, Jaya sedang berada di India saat itu, namun dia mengaku sudah menonton penampilan Canho di Youtube.
Jaya Suprana menilai, secara teknis Canho sudah bagus, dan hanya butuh pemantapan melalui latihan lebih intens. Dia juga menasihati Canho agar lebih percaya diri, lebih luwes dalam bermain, dan bermain dengan gembira. Jaya juga mengutarakan rasa bangga karena biasanya yang pandai bermain piano adalah anak-anak dari kalangan berada alias ‘the haves’.

Canho, yang digembleng ayahnya sendiri, Chris Jambru (lulusan Seminari Mataloko yang belajar piano di Institut Seni Indonesia) merupakan bukti bahwa keuletan, tekad baja dan disiplin berlatih dapat mengantar orang menuju sukses.

“Pak Jaya sempat bicara cukup lama dengan Canho maupun ibunya. Beliau berjanji sepulangnya dari India akan mengontak kami, karena beliau ingin bertemu secara langsung dengan Canho. Kita patut bangga, karena Pak Jaya yang sudah sarat pengalaman itu mengapresiasi bakat alam dan keterampilan Canho yang tentu didapat melalui latihan keras oleh ayahnya,” ujar Valens Daki-Soo yang menghubungi Jaya via telepon seluler.

Canho Pasirua sempat tampil dalam konser tunggal dalam rangka penggalangan dana di Musro, Hotel Borobudur Jakarta, Rabu (29/6). Penampilannya amat memukau di hadapan sejumlah tokoh seperti Komjen Pol (Purn) Gories Mere, anggota DPR RI dari Dapil Timor Victor Laiskodat, tokoh media massa nasional Karni Ilyas dan Primus Dorimulu, komisioner Komnas HAM Natalis Pigai, mantan Deputi Pencegahan BNN Yapi Manafe, pengusaha Ardy Supriyadi dan Mandra P Shakti dari Bumi Biru Group. Hadir pula tokoh Ende di Jakarta pengusaha M Hanafi, Dr Ignas Iryanto, politisi Melki Laka Lena, dan aktivis muda yang juga Ketua Presidium PMKRI Angelo Wake Kako.

Konser itu digelar oleh VDS Entertainment & Event Organizer, salah satu unit usaha PT VDS, dengan dukungan Gories Mere dan Artha Graha Peduli (AGP) — sebuah yayasan sosial-kemanusiaan dari grup usaha Artha Graha Network (AGN).

Menyitir ucapan Valens, kini kita menanti sambil mendoakan sang pianis cilik asal ‘Kota Pancasila’ Ende, Flores, itu mampu keluar sebagai juara. Namun, dia mengatakan apapun hasilnya, Canho telah mengharumkan nama bangsa.

Facebook Comments

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com